K3 Perkebunan Kelapa Sawit



KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT


Deskripsi
Pembangunan sektorkehutananselainbertumpupadapengelolaansumberdayaalam yang lestarijugapeningkatanmanfaatsebesar-besarnyabagimasyarakatsekitarhutandansumberdayamanusia yang terlibatdalampengelolaanhutan.Pengelolaanhutantidakterlepasdaripenerapanteknologidanketerlibatansumberdayamanusia.Penerapanteknologidalampengelolaanhutantercermindaripenggunaanalat-alatberatdalamkegiatanpemanenankayu.Penyerapantenagakerja yang relatifbanyakmenuntutperhatian yang lebihtinggiterhadapkeberadaanpekerjahutan.

Kegiatanpemanenankayumerupakansuatukegiatan yang dapatdikategorikanberat Hal initerlihatdariproduk yang ditanganiberupa log (kayubulat) dengan volume besardanberat. Penanganan log tersebutmemerlukandukunganalat-alatberat yang menuntutkeahliankhususdalampengoperasiannya. Selainitukondisialamdengantopografiberatsertasulitnyakondisilapanganakanmenambahberatnyapekerjaanpemanenankayu. Hal tersebutsemakinakrabdengananggapanbahwabekerja di bidangkehutananadalahberbahayadanmengandungpotensiresiko yang tinggi.
.
Olehkarenaitu, usaha-usaha kesehatanpun harus dilakukan danharus disesuaikan dengan sifatdankarakterlingkunganmasyarakatsekitar, dalam arti menyelenggarakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Usaha-usaha ini meliputi bidang preventif dan kuratif baik mengenai penyakit umum, kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Untuk mencegah penyakit-penyakit akibat kerja harus diambil cara-cara pencegahan yang disesuaikan dengan jenis-jenis bahaya menurut pekerjaannya. Atas dasar itulah disusun program pencegahan yang sebaik-baiknya.
Semangat menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja harus menjadi perhatian utamapadaperusahaan pengelolaanhutanindustri di Indonesia. Sebagai upaya mematuhi regulasi yang diatur pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan PP No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3). Masalah  ini pun telah diatur dalam prinsip dan kriteria ISPO maupun RSPO.
Meski demikian, beberapa perusahaan kurang  serius menjaga keselamatan dan kesehatan pekerjanya karena terhambat mahalnya produk alat pelindung diri. Paling utama, keselamatan kerja belum menjadi budaya utuh  dalam kegiatan di areal hutan. Kondisi inilah yang membuat kecelakaan dan insiden kerja masih terjadi.  Upaya menciptakan zero injury dan zero accident sudah diterapkan perusahaan kelapa sawit, lewat serangkaian kebijakan.
Inovasi perusahaan menciptakan kondisi K3 sangatlah dibutuhkan guna mengantisipasi timbulnya insiden yang terjadi. Sebab, harus disadari kecelakaan yang terjadi di areal hutan dan pabrik akan menciptakan dampak negatif kepada perusahaan.

TUJUAN
Dengan mengikuti pelatihan ini, diharapkan peserta dapat
·         Memahami model manajemen K3 pada kegiatan pengusahaan hutan produksi
·         Mengetahui proses kerja dan bahaya potensi pada pekerjaan lapangan diHutanIndustri
·         Mengetahui peranan kesehatan kerja pada industri perkebunan dankehutanan
·         Mengetahui peralatan kerja serta APD yang harus dikenakan saat melaksanan pekerjaan di lapangan
·         Mampu menyusun Panduan Kesehatan Kerja

OUTLINE
1.       Pengantar K3 PengusahaanHutanIndustri
2.       SistemManajemen K3
3.       Proses Kerja Pada HutanIndustri
·       Persiapan Lahan / Wilayah Hutan
·       Pembukaan Lahan
·       Pembibitan&Penanaman
·       Pemeliharaan Tanaman
·       PemanenanKayu
·       Pengangkutankayu
·       Penimbunan Kayu
4.       Kondisi Lapangan dalam hal Penanganan K3
5.       Faktor-faktor Kunci bagi Keberhasilan Manajemen K3
6.       Penilaian Bahaya dan Risiko PekerjaanpadaPengusahaanHutanIndustri
7.       Pemeriksaan Kesehatan Berdasarkan Bahaya dan risiko
8.       Tanggap Gawat Darurat Medik
9.       Penetapan Penyakit Akibat Kerja
10.   Penyusunan Rekam Medis dan Pelaporan
11.   Program Promosi Kesehatan

PARTICIPANTS
Pelatihan ini ditujukan bagi para petugas pelaksana danpengawaspadapekerjaan yang terkaitdenganPengusahaanHutanIndustri.

INSTRUKTUR
NurTjahyaWilasa, S.Hut.
MerupakanstafAhliSpesialisasi K3 bidangKehutanan yang bernaung di bawahDepartemenKehutanansebagaipengajarberbagaibidangpelatihansertifikasi di PusdiklatKehutanansejaktahun 2006.

DURASI
4 hari






Emergency Response and Procedure



Training Emergency Response and Procedure




DESKRIPSI
Faktor risiko terkait dengan operasi perusahaan akan selalu menyertai dan perlu untuk mendapatkan perhatian yang seruis dari semua pihak. Resiko seperti kebakaran dan ledakan akibat kesalahan prosedur pengoperasian yang terjadi dilingkungan kerja akan ancaman serius yang harus ditanggapi. Belum lagi Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam seperti gempa, longsor, banjir, dan tsunami yang datangnya sulit diprediksi. Selain bencana alam, ancaman terror bom juga menjadi ancaman serius mengingat sempat maraknya pemberitaan mengenai hal tersebut. Berbagai asset penting, properti bahkan SDM bisa saja menjadi terancam. Oleh karena itu tanggap darurat (emergency Response) adalah hal yang wajib dikembangkan di perusahaan untuk mengantisipasi kerugian akibat bencana yang karena suatu hal dapat tidak terkendali. Untuk mengatasi ketiga kejadian di atas seperti terror bom, huru hara dan bencana alam diperlukan adanya sistem manajemen ERP yang tepat. ERP (Emergency Response Plan / Tanggap Darurat Bencana) adalah sistem yang menggabungkan beberapa depertemen mencakup HRD, keamanan (security), kesehatan, termasuk K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) itu sendiri untuk menanggulangi kejadian bencana tersebut.
Ancaman bahaya yang memungkinkan mendatangkan kerusakan besar seperti kebakaran gempa, tsunami, badai, banjir, bahkan demo yang semakin membudaya dilingkungan masyarakat kita, sudah barang tentu wajib  untuk diantisipasi. Perusahaan harus membentuk organisasi tersendiri dalam menghadapi keadaan darurat, apapun bentuknya. Tanpa persiapan yang baik dalam menghadapi keadaan darurat, kepanikan akan terjadi dan kemungkinan kerugian yang lebih besar akan dialami oleh perusahaan. Kesadaran perusahaan tentang kemungkinan adanya bencana yang tidak diharapkan, akan meningkatkan kewaspadaan Perusahaan.

MANFAAT
Dengan mengikuti kegiatan pelatihan ini, diharapkan:
1.      Meningkatkan kesadaran peserta akan pentingnya kesiapsiagaan perusahaan terhadap keadaan darurat apapun, yang mungkin bisa terjadi dan mungkin bisa dialaminya.
2.      Peserta memahami dengan benar berbagai hal yang terkait dengan Emergency Response Plan (ERP) sebagai suatu sistem yang selalu dibutuhkan dan diaplikasikan dalam keadaan darurat.
3.      Mengetahui apa saja yang bisa terjadi dalam keadaan darurat.
4.      Mempersiapkan diri dalam mengurangi kemungkinan kerugian yang lebih besar bila dalam keadaan darurat.

MATERI
·      Introduction to Emergency Response  Plan
-       Definisi Darurat dan Benncana
-       Jenis-jenis dari Keadaan Darurat dan Bencana
·    Persiapan dan Perencanaan menghadapi Keadaan Darurat dan
-       Pembentukan Team Emergency
-       Prosedur-prosedur dalam Emergency
·    Penanggulangan Ketika terjadinya Emergency
-       Sistem Evakuasi Orang
-       Sistem Evakuasi Peralatan
·    Penanggulangan Pasca Bencana / Emergency
-       Penanganan setelah Terjadinya Bencana / Emergency
-       Medical Emergency
·    Sistem Pelaporan dan Komunikasi
-       Sistem-sistem pelaporan dan Tanggung jawab
-       Jalur-jalur Komuniasi
·    Crisis Management to Improve ERP Program Development
·    Simulasi Emergency (Kebakaran, P3K Respon, Evakuasi Korban, Komunikasi)

SIAPA YANG PERLU MENGHADIRI?
Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Semua Anggota P2K3, Semua jajaran Manajer dan Supervisor Perusahaan mulai dari Bagian Produksi, Pemeliharaan, Engineering, Analis, Personalia, Pelatihan dan Pengembangan sampai dengan Sekuriti, Semua karyawan yang terkait dan diharapkan dapat membantu melakukan analisa kecelakaan didaerah kerjanya masing-masing.

Instruktur
Jamaludin Harahap, SE, ST, M.Si